Resensi | Dimuat di: Koran Jakarta, 15 Agustus 2014

Sobary1Kondisi sekarang korupsi merajalela, penuh kekerasan, pornografi , tawuran pelajar/ antarkampung. Itulah wajah Indonesia. Seperti yang ditulis dalam sampul buku, “Terkadang kita malu memandang wajah kebudayaan sendiri. Dalam semangat melawan korupsi, kemunafi kan muncul di sana-sini. Pejabat-pejabat tertinggi kerap melindungi anggotanya yang korup. Ini kebiasaan terkutuk di mata masyarakat, tetapi menjadi tradisi agung di kalangan pejabat.”

Mohamad Sobary mengajak pembaca untuk memandang wajah kebudayaan Indonesia melalui kumpulan esai-esainya. Dengan gaya bahasanya yang sederhana, bahkan terkadang nylekit, namun justru itulah yang membuat tulisan-tulisannya menarik. Budayawan yang juga mantan peneliti bidang kebudayaan dan agama LIPI ini selalu menyerukan kepada masyarakat luas untuk terus bangkit. Hidup dan berkembang bukan karena dijaga dan dirawat, melainkan diberontak.

Buku ini dibagi ke dalam bab (1) Wajah manusia di Tengah Pembangunan, (2) Manusia dalam Kemelut Demokrasi, (3) Merawat dan Mencipta Tradisi, (4) Religiositas Hidup Sehari-hari. Buku ini memaparkan kesenjangan negeri ini. Kehidupan anak-anak jalanan dalam derap kemajuan pembangunan. “Konstitusi sudah mengatur tentang keadilan sosial dengan jelas. Pesan keagamaan tegas. Namun, kesadaran sosial, konstitusional, dan moral hanya berhenti di kesadaran. Kita hafal ayat-ayat Tuhan, tapi hanya berhenti di hafalan.

Kita tidak mengamalkan. Di depan Tuhan kita munafi k. Apalagi hanya di depan konstitusi” (hal 7). Kisah dalam dunia pewayangan menjadi media untuk menunjukkan keteladanan dan kemungkaraan berabad- abad silam. Wayang merupakan suatu jenis karya sastra yang enak dibaca dan ditonton. Lakon wayang seperti kisah hidup manusia. Wayang merupakan sebuah dunia tersendiri yang utuh, komplet, dan sempurna (hal 190). Buku 303 halaman ini hasil kajiankajian ilmiah untuk memperkokoh protes-protes penulis karena ketidakadilan yang sering harus diterima rakyat.

Jalur yang ditempuh begitu tegas. Dia memihak rakyat sebagai ibadah politik yang membuat hidup begitu indah. Banyak keteladanan dihadirkan mulai dari Bung Hatta, Jusuf Kalla, hingga tokoh fenomenal yang kini menjadi orang nomor satu Indonesia, Joko Widodo. Tak ketinggalan suguhan keteladanan Gus Dur (hal 252) Seperti kembang mawar, yang hakikatnya tak pernah sirna, Gus Dur pun tidak pernah hilang dari ingatan masyarakat. Di Madura ada pesantren selama 40 hari tahlilan untuk Gus Dur.

Ini reaksi spontan warga karena tak ada yang menyuruh dan membayar. Ini buah ketulusan. Kepergian guru bangsa tersebut memberi banyak pelajaran. Kelurusan Gus Dur dibayar ketulusan warga. Kebaikan dibayar kebaikan. Masyarakat tak pernah kehilangan atau rugi. “Makamkan Dirimu di Tanah Tak Dikenal” menjadi sebuah kesimpulan buku yang pada intinya ingin mengajak pembaca menjadi manusia yang mau menjebol dan merombak watak-watak keserakahan

. Buku ini mengajak masyarakat untuk menjadi manusia yang tulus, menolong tanpa pamrih. Karya manusia selama hidup harus menjadi kenangan dan manfaat luar biasa bagi sesama. 

Diresensi Arifah Suryaningsih, lulusan MM UGM.

3,660 total views, 2 views today