Dimuat di: Kedaulatan Rakyat, Senin 4 agustus 2014

Melindungi-anak-dari-kekerasan_KR_4Agt2014Masalah kekerasan pada anak di Indonesia begitu luas dan kompleks. Mulai dari penelantaran, kekerasan di dalam rumah maupun di sekolah, pelecehan seksual, pembunuhan, dan sebagainya. Rentetan kajadian ini begitu intensif terjadi bukan hanya sekali dua kali. Bahkan berbagai data survei menunjukkan terjadinya peningkatan yang signifikan dari tahun-ke tahun atas kasus kekerasan kepada anak.

Banyak anak masih dipandang sebagai makhluk lemah dan selalu menjadi objek atas setiap kehidupan yang dilaluinya. Bahwa mereka tidak perlu didengar, mereka harus tunduk dan patuh tanpa syarat kepada orang dewasa, dan pengkerdilan hak-hak anak yang lainnya. Pandangan keliru tersebut masih banyak kita jumpai dalam kelompok-kelompok masyarakat yang meyakini bahwa pendidikan dan pola asuh anak didasarkan pada pengalaman turun temurun atas apa yang diperoleh dan dirasakan dari orangtuanya terdahulu.

Pesatnya perkembangan jaman nyatanya telah merubah juga karakteristik anak pada setiap generasinya. Sehingga problematika yang dialami anak sudah pasti berbeda dengan apa  yang orangtuanya alami pada jamannya. Sehingga diperlukan upaya untuk terus mengedukasi masyarakat dan juga para orangtua mengenai hal ini, termasuk juga bagi para guru.

Ketika orang tua maupun guru masih bertindak sebagai penguasa atas hak-hak anak, dengan segala otoritasnya dia akan menjadikan dirinya eksclussive. Dan terbangunlah pola hubungan top-down (vertikal),  yang membuka celah untuk terjadinya kekerasan. Sementara Tapscott, telah mengatakan dalam Growing up Digital (1998), bahwa proses belajar dalam kebudayaan global menuntut guru untuk bertindak sebagai fasilitator, proses belajar adalah sesuatu yang menyesuaikan dengan siswa (costumized), sekolah sebagai pusat untuk bergembira, dan pembelajaran berpusat kepada siswa.

Kehadiran Kurikulum 2013 yang mengandung “ruh” pendidikan yang lebih humanis menjadi sebuah peluang bagi tumbuh kembangnya anak secara lebih optimal. Tujuan mulia kurikulum ini akan menuai hasil yang diharapkan, yaitu untuk menyiapkan manusia Indonesia yang kreatif, inovatif dan mampu berpikir orde tinggi. Jika dan hanya jika guru yang membersamai siswa mengerti serta memahami bagaimana menjadi seorang fasilitator yang mumpuni bagi anak-anak didiknya. Kompetensi lulusan program pendidikan akan mencakup tiga hal, yakni sikap, pengetahuan, dan keterampilan, sehingga yang dihasilkan adalah manusia seutuhnya.

Selanjutnya keluarga sebagai unit masyarakat terkecil mempunyai peranan yang sangat vital untuk menekan terjadinya kekerasan terhadap anak.  Anak-anak sangat butuh perlakuan yang benar dan bijaksana, bukan sekedar materi. Materi hanyalah sarana pendukung.  Hati seorang anak perlu untuk dibesarkan, dijaga, dan ditumbuhkan. Disinilah peran orangtua sebagai bagian dari tiga pilar pendidikan itu dioptimalkan. Karena orangtua adalah model bagi anak dan juga menjadi benteng perlindungan bagi anak.

Lebih lanjut, Rhenald Kasali dalam bukunya Let’s Change (2014), memperkenalkan dengan apa yang disebut sebagai keyakinan inti (core-belief). Bahwa dibalik pikiran kita terdapat elemen rasa saling percaya, hubungan personal, dan pengendalian hidup. Ketiganya harus dibangkitkan dalam setiap interaksi yang dibangun dengan seorang anak. Sehingga akan bertumbuhlah rasa empati untuk saling menghargai, sebagai orang dewasa dan sebagai seorang anak.

Peran strategis pemerintah untuk memberantas kekerasan pada anak  perlu terus ditingkatkan.  Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984, yang menetapkan tanggal 23 Juli sebagai Hari Anak Nasional (HAN) dengan tujuan untuk mensosialisasikan tentang hak – hak anak, jangan hanya dijadikan sebuah peringatan tanpa aksi-aksi nyata di lapangan. Karena kekerasan pada anak di negeri ini sudah masuk pada kategori gawat darurat untuk segera dicarikan jalan keluarnya.  Upaya merevisi UU Nomor 23 Tahun 2002 untuk memperberat hukuman bagi para pelaku kejahatan seksual pada anak benar-benar dinantikan hasilnya. Ganjaran yang berat bagi para pelaku harus secara tegas diberikan sehingga menimbulkan efek jera.

Komitmen dan sinergi semua unsur masyarakat untuk memberikan jaminan terpenuhinya hak – hak dan perlindungan anak yang merupakan hak asasi manusia, sudah semestinya dimiliki Bangsa Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia. Hak – hak itu antara lain hak untuk hidup, kelangsungan hidup, tumbuh – kembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang bahagia, sejahtera, berkualitas dan terlindungi. Semoga.

*Arifah Suryaningsih, Pendidik. Alumni UNY dan Manajemen Kepengawasan Pendidikan di MM UGM.

2,978 total views, 1 views today