Metamorfosa adalah suatu proses perubahan dari sesuatu menjadi suatu bentuk yang lain dari bentuk semula. Seperti halnya metamorfosa seekor kupu-kupu: dia berasal dari sebuah telur kupu-kupu yang menetas menjadi seekor ulat. Dari ulat kemudian berubah menjadi kepompong dan setelah beberapa waktu dari kepompong itu keluarlah seekor makhluk yang sama sekali berbeda dari bentuk larvanya—seekor kupu-kupu.

Seperti Halnya SMK N Sewon 2, yang keberadaannya nyaris tak diketahui publik secara luas, ternyata Sekolah Kejuruan Seni Rupa, yang baru secara spesifik mengajarkan dasar dasar Seni Kriya, Desain Grafis, dan Multi Media. Selama ini sekolah seni rupa tingkat menengah di Yogyakarta masyarakat selalu mengacu pada SMSR ( SMK 3 Kasihan ) yang sudah berdiri sejak 1963.

Dan sebagai debut dari SMK N Sewon 2 ini adalah dengan menggelar sebuah Pameran Tugas Akhir dari para siswanya dan juga karya para guru, yang diikat dalam tajuk METAMORFOSA, yang akan digelar di TeMBI Rumah Budaya, 22-24 Mei 2015.

Pameran ini adalah pengumuman dari benih-benih SMK N 2 Sewon, yang nantinya benih-benih ini akan berkembang dan berkiprah, baik di dunia kerja atau melanjutkan jenjang pendidikan di Perguruan Tinggi. Semua langkah untuk mempersiapkan benih yang siap bersaing, mutlak membutuhkan profesionalisme untuk menghadapi tantangan Dunia Luar yang tiap saat berubah.

Yang harus dicermati dalam perkembangan dunia pendidikan, apalagi untuk sebuah sekolah menengah kejuruan adalah sistem pendidikan yang tak bisa lepas dari pengaruh Kapitalisme. Sebab sekolah kejuruan bukan hanya kegiatan belajar mengajar saja yang dikejar tetapi juga bagaimana lulusannya kelak akan berkarir. Ekspansi sistem kapitalisme dalam dunia pendidikan telah menciptakan kondisi bertautnya logika pendidikan dengan logika kapitalisme (logics of capitalism),dan pendidikan akan menjadi mesin kapitalis yang fokus utamanya untuk mencari keuntungan.

Padahal dunia pendidikan sesungguhnya dibangun atas dasar nilai objektivitas, keilmiahan (scientific) dan kebijaksanaan (virtue). Pendidikan sebagai wahana mencari pengetahuan (knowledge) dan kebenaran (truth) kini menjadi wacana keuntungan (profit). Metode pemberian ketrampilan, pembentukan watak, penciptaan karakter, pembangunan mental, diarahkan untuk mendukung hegemoni kapitalisme. Dalam pengajarannya kemudian yang dikejar adalah pengetahuan yang pragmatis, strategis, dan ekonomis.

Itulah yang harus diantisipasi oleh dunia pendidikan. Karena hidup tidak hanya mengejar keuntungan, materi, citra, dan kompetisi. Hidup juga membutuhkan kemitraan, kerjasama, cinta, aspirasi, kasih sayang, moralitas, spiritual, kebersamaan, hakikat, dan keyakinan. Siswa juga harus diajari hidup sederhana dan mengurangi peran berlebihan citra, serta harus mampu berpikir jangka panjang (long term mode).

 

Di Balik Tradisi Visual Manual

Ada sebuah harapan besar dari Pameran Seni Rupa “Methamorfosa” ini yang menampilkan Seni Lukis, Seni Kriya, dan Seni Desain Grafis. Harapan besar ini, tampak terlihat dari sederet karya para Guru-Guru SMK N 2 Sewon ini. Para guru ini ibarat Kupu-kupu yang kali ini tengah menunjukkan Telur-telurnya yang baru menetas.

 

Coba tengok Ratini, yang menapilkan karya lukisan dengan judul “Potret Kehidupan Desa” 69×90 cm, oil on canvas, 2015. Di sini Ratini tampak menampilkan sebuah potret spiritualisme profesi  wong cilik. Sosok perempuan desa, yang sedang menggendong tenggok berisi buah kelapa.

Tampak Ratini menggambarkan Spiritualisme ibu-ibu bakul pasar ini setiap hari harus meninggalkan rumah di pagi buta menuju pasar, di saat kebanyakan orang masih terlelap dalam tidurnya. Selain karya Ratini, adalah Mei Lina Mitasari. Melalui bahasa visualnya ia menyajikan sepenggal kisah keluarga muda yang homey family. Gaya lukisannya yang Naif, kekanak-kanakan dan jujur, menunjukan rasa kepiawainya dalam berkarya.

 

Selanjutnya dalam Seni Kriya Tekstil dan Batik, dapat dilihat dari sederet karya Antonius Ruli Nandra, Kurniawati, Fatma Siti Her Zam-Zam, Mika Yurimawati, Imtikhanah, Cicilia Wuri Handayani, Utari, Elirida Sulpiyati, Setyowati dan Tukiran, Sementara Sudjit Daryanto, menampilkan Kriya Kayu dengan tehnik pahat dan coloring. Dari keseluruhan karya Seni Kriya, tampak terlihat upaya untuk tetap menjaga Tradisi Visual Manual.

Sedikit mengintip karya Batik Painting dari Setyowati, yang berjudul “Gandhewa Pawestri” 100x125cm, batik panting, 2015. Setyowati nampak ingin menonjolkan sisi feminismenya. Sosok Srikandi lengkap dengan Panah dan Busurnya dengan didukung dua kupu-kupu dan background yang ornamentik, memperlihatkan simbolisasi dari kekuatan dan kelembutan di balik sosok wanita.

 

Selanjutnya Titin Agustina dan Arifah Suryaningtyas menampilkan karya Seni Fotografi, sementara Diah Shindhuwati, R.Kurniantoro dan Sukendar mempresentasikan karya-karyanya melalui piranti Digital Print.  Boleh melongok karya Sukendar, yang berjudul “Sendiri”  60×40 cm, digital print, 2015.  Sebuah portrait Sampan/ Perahu yang bersandar di sebuah dermaga di tepian sungai. Di atas perahu, Sukendar meletakkan sebuah teks, memberi kesan ada sebuah pesan di sana.

Dari Karya para Guru SMK N 2 Sewon ini, tentu saja mengingatkan kita, bahwa Tradisi Budaya Visual Manual tetap sebagai landasan utama karya visual apapun. Jika teknik manual sudah dikuasai dengan bagus, teknik digital akan lebih mudah dikuasai pula, tetapi jika hanya menguasai teknik digital saat berhadapan dengan keharusan menggunakan teknik manual, pasti akan tidak memuaskan hasilnya. Sebagai contoh kongkrit betapa bagusnya film “Daun Di Atas Bantal” atau Film “Guru Bangsa Cokroaminoto” garapan Garin Nugroho. Di balik keberhasilan film itu, tetap saja dimulai dari gambar sketsa Storyboard dan Tata Artistiknya, yang semuanya hanya bisa dicapai dengan Visual Manual.

 

Sekilas Sekolah Seni Rupa

Yogyakarta, diyakini sebagai Ibu kota seni rupa Asia Tenggara, dan yang menjadi istimewa lagi, Bantul sebagai salah satu kabupaten di DIY, adalah wilayah yang memiliki 3 Institusi Pendidikan Seni Rupa: ISI Yogyakarta yang pertama, selanjutnya SMSR / SMK N 3 Kasihan, dan yang ke-3 adalah SMK N 2 Sewon yang terbilang masih muda. Semua berusaha untuk mengembangkan diri agar berkembang dan mampu bersaing dengan institusi pendidikan lain.

 

Dalam sebuah institusi pendidikan, baik umum maupun kejuruan memiliki ruang lingkup masing-masing dan diatur dengan Kurikulum. Pada sekolah kejuruan seni rupa, ruang lingkupnya biasanya mengikuti batasan pengertian seni rupa itu sendiri–Saat ini lingkup seni rupa meliputi pengertian yang cukup luas, meliputi Desain (awalnya disebut Applied Art) dan Craft atau sering disebut Seni Kriya/ Seni Terap. Akan tetapi dalam keseharian istilah seni rupa selalu dipahami secara sempit, yaitu sebatas Seni Murni (Fine Art ) semata.

 

SMK N 2 Sewon, sekolah yang baru berusia 8 tahun, tentu saja tengah menata diri, membangun sebuah imej untuk menarik perhatian publik yang lebih luas. Sekolah Kejuruan yang siap mencetak ahli-ahli pada bidang Seni Kriya, Disain Grafis dan Multi Media, yang nantinya akan mampu memberi kontribusi pada kehidupan, baik pada institusinya maupun bagi masyarakat.

 

Diakhir Tulisan ini, kita tutup dengan Statement dari Kurator Seni, Dr. Suwarno Wisetrotomo dalam makalah sebuah Diskusi pada tahun 1994, beliau  mengatakan  bahwa “ Sebuah Sekolah Seni, sesungguhnya tidak mampu mencetak ahli-ahli Seni, tetapi hanya menunjukan jalan mana yang tepat untuk menuju pada Dunia Profesionalisme”. Akhirnya semua kembali pada pribadi masing-masing, akan memilih jalan hidup dengan berbekal ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang didapatkan dari bangku pendidikan.

 

 

Studio Bodo, 15 April 2015

                                                                                                                       Yaksa Agus

                                                                Artist /Curator tinggal di Bantul dan Alumni FSR ISI Yogyakarta

 

 

Sumber Referensi:

Makalah Diskusi “ Sekolah Seni Dalam Tantangan Profesionalisme” Suwarno W, 1994

Dunia Yang Dilipat, Yasraf Amir Piliang, Jalasutra ,2004

Katalog Pameran Nandur Srawung, Taman Budaya Yogyakarta, 2014

1,565 total views, 1 views today

 

Tags: