Dimuat di: Suara Karya, Kamis/8 Mei 2014

IMG-20140524-057122Kegaduhan pesta demokrasi belum juga usai, namun untuk sementara waktu kekhusukan akan sejenak menggantikan euforia ini. Jutaan siswa di seluruh negeri sedang dan akan melaksanakan Ujian Nasional (UN). Jenjang SMA/K/MA hari ini mulai digelar, hingga dua hari kedepan (14 – 16 April 2014). Dilanjutkan dengan pelaksanaan UN untuk SMP/MTs (5-8 Mei 2014). Sedangkan ujian untuk SD/MI, telah ada keputusan dari pemerintah bahwa pada jenjang ini UN dihapuskan dan sebagai gantinya akan dilaksanakan ujian sekolah (US).

Gairah menyambut UN sudah terasa bersamaan di tengah berlangsungnya gegap gempita kampanye dari belasan partai politik. Tidak banyak yang mengeluhkan kondisi ini. Semua siswa di jenjang terakhir pendidikan dasar dan menengah tetap bersemangat dan berbondong-bondong mengikuti pelajaran-pelajaran tambahan di berbagai tempat. Bagaimana tidak? Selain akan menjadi tiket masuk pada jenjang pendidikan berikutnya, hasil UN juga merupakan sebuahprestise dan simbol keberhasilan seorang siswa terhadap pendidikan yang telah dienyamnya.Itulah yang selama ini terjadi, prestise ditempatkan jauh diatas  prestasi. Sehingga UN pada akhirnya menjebak hampir semua siswa pada pola pikir yang pragmatis. Menerabas untuk mencari jalan pintas menuju “pintar UN”. Maka menyongsong kehadirannya, adalah sebuah perjuangan panjang yang harus dilalui para siswa. Jauh-jauh hari sebelumnya, mereka telah menghabiskan waktunya untuk terus belajar menghafal rumus-rumus jitu, kemudian berkutat dengan bermacam-macam tipe soal latihan UN baik di sekolah maupun di tempat bimbingan belajar.

Kini anak-anak kita sedang menghadapi ujian ini. Terlepas dari pro dan kontra yang mengiringinya selama bertahun-tahun, diperlukan dukungan berbagai pihak untuk mensukseskan pelaksanaannya. Bukan hanya ada pada pihak sekolah dan guru semata, namun faktor dukungan orang tua merupakan hal yang sangat berarti untuk membesarkan dan menguatkan hati anak agar menjalani UN dengan tenang. Ketenangan itu harus diiringi dengan komitmen dan integritas kejujuran seluruh sistem pelaksanaannya.

Pelaksanaan UN yang jujur, setidaknya akan membuat siswa lebih bersemangat mejalaninya. Dengan begitu hasil yang dicapai oleh seluruh siswa dari manapun mereka berasal, akan benar-benar murni cerminan upaya yang telah dilakukan.  Berbagai macam aksi tipu-tipu (baca: kecurangan) untuk memenangkan UN yang banyak dikabarkan terjadi di beberapa daerah justru menjadikan siswa mengakhiri peiode sekolahnya dengan sangat tidak bahagia.

Seperti  yang dituliskan oleh Misbach (2013), bahwa hasil survei pengalaman UN periode 2004-2013 oleh Pusat Psikologi Terapan UPI menunjukkan UN ternyata tidak dimaknakan para responden sebagai tantangan untuk meningkatkan motivasi belajar. Bahkan dalam survei tersebut terdeteksi hal yang jauh lebih membahayakan moral di masa depan.  Sebanyak 75% responden menyatakan pengalaman buruk UN bukan karena takut tidak lulus, melainkan karena mereka memendam stres harus menyaksikan sekaligus terlibat kecurangan yang sistematis.

Rasa bersalah pada nurani meninggalkan chronice distress sampai tahunan sebagai bentuk trauma moral yang tak selesai. Mereka kesulitan memahami relevansi antara nilai-nilai moral kejujuran yang diajarkan di kelas dan kenyataan bahwa guru, pengawas, kepala sekolah melakukan kecurangan mengatrol nilai, membocorkan kunci jawaban, dan membiarkan mereka menyontek massal. (Baca: Tidak Ada Eustress dalam UN)

Kita boleh berlega hati, UN 2014 kali ini mengusung jargon “Bermutu, Bermanfaat, dan Bermartabat”. Artinya ada berjuta harapan bahwa UN akan benar-benar dilaksanakan secara profesional di seluruh pelosok negeri. Karena sejatinya UN bukan saja bertujuan pada empat hal seperti yang diamahkan  Peraturan Pemerintah  No 19 tahun 2005 pasal 68. Yakni  sebuah upaya untuk (1) Pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan; (2) Dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya; (3) Penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan; (4) Pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upayanya untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Lebih dari itu pendidikan sejatinya ialah hasil serangkaian proses pembelajaran siswa secara menyeluruh dalam aspek kognitif, emosi dan konatif, dengan harapan semua proses tersebut bukan hanya akan mampu meningkatkan daya saing personal siswa, namun juga melahirkan manusia-manusia yang berbudi pekerti luhur. Maka pelaksanaan UN yang “Bermutu, Bermanfaat, dan Bermartabat” setidaknya akan memberikan harapan besar bahwa pendidikan karakter yang selama ini telah disemai tidak akan sia-sia hanya karena pelaksanaan UN yang  tidak fair.

Berapapun angka yang akan diperoleh siswa dalam menjalani UN ini nantinya, harus bisa diterima secara wajar oleh  siapapun. Cerminan keberhasilan pendidikan bukan sekedar ditunjukkan dengan capaian nilai yang diwujudkan dengan angka-angka, namun terlahirnya manusia masa depan yang sarat dengan prestasi serta tangguh dalam menghadapi tantangan masa depan.  Maka pengawalan UN yang bersih, jujur dan bermartabat harus terus dilakukan oleh siswa, guru, orang tua, kepala dinas  hingga kepala daerah.

Keberanian beberapa kepala daerah untuk mendeklarasikan pelaksanaan UN yang jujur akan membangun kepercayaan masyarakat terhadap dunia persekolahan untuk pendidikan anak-anaknya. Sehingga semua jargon maupun penandatanganan pakta integritas harus benar-benar ditunjukkan  secara konkret, bahwa UN dilaksanakan untuk menggali prestasi bukan prestise.

Memposisikan pendidikan sebagai strategi pembangunan peradaban bangsa berarti bahwa proses ini melibatkan seluruh elemen masyarakat. Pendidikan bukan hanya urusan sekolah, tetapi juga urusan keluarga, organisasi atau perkumpulan sosial dan masyarakat. Sehingga kolektivitas ini tidak sekedar menjalankan amanat demokrasi, namun juga akan menukik kepada tercapainya harapan pendidikan yang mampu meningkatkan harkat dan martabat bangsa. Semoga.

*Arifah Suryaningsih, Guru SMK N 2 Sewon. Alumni Manajemen Kepengawasan Pendidikan di MM UGM.

2,770 total views, 5 views today