Klaten – Dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran vokasi dan mengembangkan implementasi Teaching Factory (TEFA), SMK Negeri 2 Sewon melaksanakan kegiatan kunjungan studi tiru Teaching Factory Jurusan Kriya Kreatif Batik dan Tekstil (KKBT) ke SMK Negeri 1 Rota Bayat pada Rabu, 5 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu langkah SMK Negeri 2 Sewon untuk memperoleh wawasan, pengalaman, serta praktik baik dalam pengelolaan pembelajaran berbasis produksi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan industri kreatif. Rombongan terdiri atas kepala sekolah, guru, dan teknisi Jurusan Kriya Kreatif Batik dan Tekstil SMK Negeri 2 Sewon.

Memperkuat Implementasi Teaching Factory
Teaching Factory merupakan konsep pembelajaran yang mengintegrasikan kegiatan pembelajaran di sekolah dengan proses produksi atau layanan berdasarkan standar dunia kerja. Melalui penerapan TEFA, murid tidak hanya belajar mengenai pengetahuan dan keterampilan teknis, tetapi juga mendapatkan pengalaman menerapkan budaya kerja, kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, pengendalian kualitas, hingga pemasaran produk. Bagi Jurusan KKBT SMK Negeri 2 Sewon, pengembangan Teaching Factory menjadi bagian penting dalam menghadirkan pembelajaran yang semakin relevan dengan perkembangan industri batik, tekstil, kriya, dan industri kreatif. Kunjungan ke SMK Negeri 1 Rota Bayat dilakukan untuk mempelajari secara langsung bagaimana pembelajaran berbasis produksi dikelola sehingga dapat memberikan pengalaman kerja yang lebih nyata kepada murid.
Penyambutan dan Pemaparan Pengelolaan TEFA
Rangkaian kegiatan diawali dengan penyambutan rombongan SMK Negeri 2 Sewon oleh pihak SMK Negeri 1 Rota Bayat. Kegiatan dilanjutkan dengan pembukaan dan perkenalan antara kedua pihak. Dalam kesempatan tersebut, pihak SMK Negeri 1 Rota Bayat memberikan pemaparan mengenai pelaksanaan dan pengelolaan Teaching Factory. Berbagai aspek dibahas, mulai dari konsep dan tujuan TEFA, struktur pengelolaan, perencanaan kegiatan produksi, pembagian tugas guru dan murid, proses pembelajaran berbasis produksi, standar operasional produksi, pengendalian mutu, pengelolaan bahan dan peralatan, administrasi produksi, hingga strategi pemasaran dan pengembangan produk. Pemaparan tersebut memberikan gambaran kepada rombongan mengenai pentingnya pengelolaan Teaching Factory secara sistematis agar kegiatan produksi tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran.


Observasi Proses Pembelajaran dan Produksi
Setelah mendapatkan pemaparan, rombongan SMK Negeri 2 Sewon melakukan observasi secara langsung terhadap lingkungan kerja, fasilitas pembelajaran, sarana produksi, serta aktivitas yang berkaitan dengan pelaksanaan Teaching Factory. Melalui observasi tersebut, guru dan teknisi KKBT dapat melihat bagaimana proses pembelajaran diintegrasikan dengan kegiatan produksi. Murid dalam pembelajaran berbasis TEFA diarahkan untuk memahami proses kerja secara lebih nyata, mulai dari persiapan hingga menghasilkan produk yang memiliki nilai guna dan nilai jual. Kegiatan observasi juga menjadi kesempatan bagi rombongan untuk melihat pemanfaatan fasilitas dan sarana produksi dalam mendukung kegiatan pembelajaran maupun produksi.
Diskusi Pengelolaan Produksi Batik dan Tekstil
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab antara guru serta teknisi SMK Negeri 2 Sewon dengan tim pengelola Teaching Factory SMK Negeri 1 Rota Bayat. Berbagai hal menjadi bahan diskusi, di antaranya model pengelolaan Teaching Factory, kesesuaian produk dengan kompetensi keahlian, penentuan produk yang akan dipasarkan, pengelolaan bahan baku, pembagian pekerjaan kepada murid, penghitungan biaya produksi, penentuan harga jual, pengendalian kualitas, strategi pemasaran, serta pelibatan dunia usaha dan dunia industri. Selain itu, turut dibahas aspek administrasi dan pelaporan TEFA serta evaluasi hasil produksi dan pembelajaran. Diskusi ini memberikan wawasan mengenai berbagai hal yang perlu dipersiapkan agar kegiatan Teaching Factory dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan.
Melihat dan Mempelajari Produk Hasil TEFA
Rombongan juga melakukan peninjauan terhadap berbagai produk yang dihasilkan melalui kegiatan pembelajaran dan produksi. Produk-produk tersebut menjadi sumber inspirasi bagi guru dan teknisi KKBT dalam mengembangkan produk yang lebih kreatif, inovatif, dan sesuai dengan kebutuhan pasar. Melalui kegiatan tersebut, rombongan memperoleh wawasan mengenai pentingnya memperhatikan desain, inovasi, kualitas pengerjaan, fungsi, kemasan, serta peluang pemasaran dalam mengembangkan produk batik dan tekstil. Produk hasil pembelajaran tidak harus terbatas pada kain batik atau tekstil, tetapi dapat dikembangkan menjadi berbagai produk kriya, fesyen, aksesori, maupun produk fungsional yang memiliki nilai tambah dan peluang pasar.
Pembelajaran Berbasis Produksi dan Budaya Kerja
Salah satu pembelajaran penting yang diperoleh dari kegiatan studi tiru adalah bahwa Teaching Factory dapat menjadi sarana untuk mengintegrasikan kompetensi yang dipelajari murid dengan kegiatan produksi nyata. Dengan demikian, hasil pembelajaran tidak hanya berhenti pada tugas praktik, tetapi dapat diarahkan menjadi produk yang memiliki standar kualitas, nilai guna, dan nilai jual. Proses tersebut sekaligus dapat membiasakan murid dengan budaya kerja industri, seperti disiplin waktu, ketelitian, tanggung jawab, kerja sama, keselamatan dan kesehatan kerja, menjaga kualitas, menyelesaikan pekerjaan sesuai target, serta menjaga kebersihan dan kerapian tempat kerja. Pengalaman tersebut diharapkan dapat membentuk murid KKBT yang tidak hanya terampil dalam membuat produk batik dan tekstil, tetapi juga memiliki sikap profesional dan kesiapan menghadapi dunia kerja.
Pentingnya Pengembangan Produk dan Pemasaran
Dalam pengelolaan Teaching Factory, aspek pengembangan produk dan pemasaran menjadi bagian yang tidak kalah penting. Produk yang dihasilkan perlu disesuaikan dengan kebutuhan konsumen, perkembangan tren, fungsi, kualitas, serta karakteristik pasar. Pemasaran dapat dilakukan melalui berbagai media, baik secara langsung maupun melalui media digital. Penguatan branding sekolah dan identitas produk juga diperlukan agar karya yang dihasilkan memiliki karakter dan daya saing. Hal tersebut menjadi salah satu bahan evaluasi bagi SMK Negeri 2 Sewon dalam mengembangkan TEFA KKBT agar kegiatan produksi tidak hanya berorientasi pada proses pembelajaran, tetapi juga mampu memberikan pengalaman kepada murid mengenai bagaimana sebuah produk dikembangkan hingga dapat diterima oleh konsumen.
Penguatan Peran Guru dan Kerja Sama Industri
Melalui kegiatan studi tiru ini, rombongan juga memperoleh pemahaman mengenai pentingnya peran guru dalam pelaksanaan Teaching Factory. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai fasilitator, pembimbing, pengarah, sekaligus pengawas proses produksi. Guru perlu memastikan bahwa kegiatan produksi tetap memiliki tujuan pembelajaran dan memberikan pengalaman kerja yang bermakna bagi murid. Selain itu, pengembangan TEFA akan semakin optimal apabila sekolah membangun hubungan yang baik dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDIKA). Kerja sama dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk, seperti pengembangan produk, penyediaan bahan, konsultasi desain, pelatihan, pemasaran, magang, maupun bentuk kolaborasi lainnya.
Menjadi Referensi Pengembangan TEFA KKBT SMK Negeri 2 Sewon
Berbagai wawasan dan praktik baik yang diperoleh dari SMK Negeri 1 Rota Bayat menjadi bahan penting bagi SMK Negeri 2 Sewon untuk melakukan evaluasi dan pengembangan Teaching Factory Jurusan KKBT. Hasil studi tiru diharapkan dapat menjadi referensi untuk membangun TEFA yang lebih terstruktur, produktif, inovatif, dan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Pengembangan tersebut tidak hanya berorientasi pada peningkatan keterampilan teknis murid, tetapi juga pada pembentukan budaya kerja, kreativitas, jiwa kewirausahaan, tanggung jawab, serta kemampuan menghasilkan produk berkualitas. Kegiatan ini juga diharapkan dapat mendorong guru dan teknisi untuk terus mengembangkan pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan industri batik, tekstil, kriya, dan industri kreatif. Dengan adanya kegiatan studi tiru, SMK Negeri 2 Sewon terus berupaya memperkuat pembelajaran vokasi agar semakin dekat dengan kebutuhan dunia kerja sekaligus memberikan pengalaman belajar yang nyata dan bermakna bagi murid.
