Surakarta – Dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran dan memperkuat implementasi Teaching Factory (TEFA), SMK Negeri 2 Sewon melaksanakan kegiatan studi tiru implementasi Teaching Factory Kompetensi Keahlian Desain Komunikasi Visual (DKV) di SMK Batik 1 Surakarta. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya sekolah untuk memperoleh wawasan, pengalaman, dan praktik baik dari satuan pendidikan yang telah mengembangkan Teaching Factory secara terintegrasi dengan proses pembelajaran.
Teaching Factory merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan proses pembelajaran di sekolah dengan budaya dan proses kerja dunia industri. Melalui pendekatan ini, murid tidak hanya dituntut untuk menguasai kompetensi teknis sesuai bidang keahliannya, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam menerapkan budaya kerja, menyelesaikan pekerjaan berdasarkan standar, bekerja secara tim, menjaga kualitas, serta menghasilkan produk atau jasa yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan.
Pemilihan SMK Batik 1 Surakarta sebagai tujuan studi tiru didasarkan pada pengalaman sekolah tersebut dalam mengembangkan dan mengimplementasikan Teaching Factory, khususnya pada bidang yang relevan dengan Desain Komunikasi Visual. Melalui kunjungan ini, SMK Negeri 2 Sewon berharap dapat mempelajari secara langsung bagaimana Teaching Factory direncanakan, dikelola, dilaksanakan, dan dievaluasi sehingga dapat menjadi referensi dalam pengembangan TEFA DKV di SMK Negeri 2 Sewon.

Menggali Praktik Baik Pengelolaan Teaching Factory
Kegiatan diawali dengan kedatangan rombongan SMK Negeri 2 Sewon di SMK Batik 1 Surakarta. Rombongan diterima oleh pihak sekolah dan dilanjutkan dengan kegiatan penyambutan serta perkenalan. Suasana kegiatan berlangsung hangat dan komunikatif, sehingga menjadi awal yang baik untuk membangun komunikasi dan berbagi pengalaman antarsatuan pendidikan.
Agenda selanjutnya adalah pemaparan mengenai implementasi Teaching Factory di SMK Batik 1 Surakarta. Dalam pemaparan tersebut, rombongan mendapatkan informasi mengenai profil dan pengelolaan Teaching Factory, latar belakang pembentukan program, tujuan yang ingin dicapai, alur pelaksanaan kegiatan, integrasi Teaching Factory dengan pembelajaran, serta peran guru, murid, dan mitra industri. Pemaparan tersebut memberikan gambaran bahwa Teaching Factory tidak hanya berkaitan dengan kegiatan produksi, tetapi juga merupakan sebuah sistem pembelajaran yang membutuhkan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi secara berkelanjutan.
Melalui Teaching Factory, proses pembelajaran dapat dirancang lebih mendekati kondisi nyata di dunia kerja. Murid mendapatkan kesempatan untuk berhadapan dengan pekerjaan atau proyek yang memiliki target, batas waktu, standar kualitas, serta kebutuhan pelanggan. Kondisi tersebut menjadi pengalaman penting untuk membangun kompetensi teknis sekaligus membentuk sikap dan budaya kerja.

Sharing dan Diskusi Sistem Pengelolaan TEFA
Setelah pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan sharing dan diskusi mengenai berbagai aspek pengelolaan Teaching Factory. Sesi ini menjadi salah satu bagian penting dalam studi tiru karena rombongan SMK Negeri 2 Sewon dapat menggali informasi secara lebih mendalam berdasarkan pengalaman nyata yang telah diterapkan di SMK Batik 1 Surakarta. Beberapa aspek yang dibahas meliputi Standar Operasional Prosedur (SOP), struktur organisasi Teaching Factory, pembagian tugas, administrasi, modul atau proyek pembelajaran, instrumen penilaian, portofolio murid, serta bentuk kerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDIKA). Pembahasan tersebut memberikan gambaran mengenai pentingnya sistem pengelolaan yang jelas dalam menjalankan Teaching Factory. Setiap unsur memiliki peran dan tanggung jawab yang perlu dikelola secara terstruktur agar proses pembelajaran berbasis produksi dapat berjalan efektif.
Rombongan juga memperoleh wawasan mengenai bagaimana guru berperan sebagai fasilitator sekaligus pembimbing dalam proses produksi, sementara murid diberikan kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam setiap tahapan pekerjaan. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berorientasi pada hasil akhir, tetapi juga pada proses dan pengalaman kerja yang diperoleh murid.
Observasi Fasilitas dan Proses Produksi
Untuk memperoleh gambaran yang lebih nyata, rombongan SMK Negeri 2 Sewon kemudian melakukan kunjungan dan observasi terhadap fasilitas yang digunakan dalam kegiatan Teaching Factory di SMK Batik 1 Surakarta. Observasi dilakukan terhadap beberapa fasilitas yang mendukung proses produksi, antara lain ruang praktik atau studio, area produksi, area finishing, quality control, serta ruang display hasil karya. Melalui kegiatan ini, rombongan dapat melihat secara langsung bagaimana fasilitas pembelajaran dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan produksi yang berorientasi pada standar dunia kerja.
Kunjungan tersebut juga menjadi kesempatan bagi guru DKV SMK Negeri 2 Sewon untuk melihat bagaimana lingkungan pembelajaran dapat ditata agar mampu mendukung proses kerja yang efektif, terorganisasi, dan sesuai dengan kebutuhan produksi. Selain mengamati fasilitas, rombongan juga menggali informasi mengenai pengelolaan produk, penataan hasil karya, serta proses pengendalian kualitas sebelum produk diserahkan kepada pelanggan.



Mempelajari Alur Kerja Teaching Factory
Salah satu fokus utama dalam kegiatan studi tiru adalah memahami alur kerja Teaching Factory dari awal hingga akhir. Rombongan mendapatkan penjelasan mengenai tahapan pekerjaan yang dimulai dari penerimaan pesanan atau order dari pelanggan. Setelah pesanan diterima, proses dilanjutkan dengan briefing dan pembagian tugas sesuai dengan kompetensi serta kebutuhan pekerjaan. Murid kemudian terlibat dalam proses desain, pembuatan produk, revisi, produksi, hingga finishing.
Setiap tahapan pekerjaan dilakukan dengan memperhatikan standar dan target yang telah ditetapkan. Proses quality control menjadi bagian penting untuk memastikan bahwa produk yang dihasilkan telah memenuhi standar kualitas sebelum diserahkan kepada pelanggan. Tahap akhir adalah penyerahan produk kepada pelanggan. Alur tersebut memberikan pengalaman kepada murid mengenai bagaimana sebuah pekerjaan atau proyek dikelola secara profesional, mulai dari menerima kebutuhan pelanggan hingga menghasilkan produk akhir.
Pengalaman tersebut sangat relevan bagi pembelajaran DKV karena dunia kerja desain tidak hanya membutuhkan kemampuan membuat karya secara kreatif, tetapi juga membutuhkan kemampuan memahami brief, berkomunikasi dengan pelanggan, melakukan revisi, memenuhi tenggat waktu, bekerja dalam tim, dan menjaga kualitas hasil pekerjaan.
Menjadi Referensi Pengembangan TEFA DKV SMK Negeri 2 Sewon
Berbagai informasi dan praktik baik yang diperoleh selama kegiatan studi tiru menjadi bahan pembelajaran bagi guru Kompetensi Keahlian Desain Komunikasi Visual SMK Negeri 2 Sewon. Pengalaman dari SMK Batik 1 Surakarta memberikan gambaran mengenai berbagai aspek yang perlu dipersiapkan dalam mengembangkan Teaching Factory agar dapat berjalan secara terarah dan berkelanjutan.
Hasil kunjungan diharapkan dapat menjadi referensi dalam melakukan evaluasi terhadap implementasi Teaching Factory yang telah berjalan di SMK Negeri 2 Sewon. Beberapa aspek yang dapat menjadi bahan pengembangan antara lain sistem pengelolaan, SOP, pembagian tugas, administrasi, alur produksi, quality control, pengembangan proyek pembelajaran, portofolio murid, pemanfaatan fasilitas, serta penguatan kerja sama dengan DUDIKA.
Pengembangan Teaching Factory diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas proses pembelajaran, tetapi juga memberikan pengalaman kerja yang lebih nyata kepada murid. Dengan demikian, murid dapat memiliki kesiapan yang lebih baik ketika memasuki dunia kerja, melanjutkan pendidikan, maupun mengembangkan usaha secara mandiri.
Memperkuat Kolaborasi dan Berbagi Praktik Baik
Kegiatan studi tiru ini juga menjadi sarana untuk memperkuat komunikasi dan jejaring antarsatuan pendidikan. Pertukaran informasi dan pengalaman antara SMK Negeri 2 Sewon dengan SMK Batik 1 Surakarta diharapkan dapat terus berkembang melalui kegiatan berbagi praktik baik dan kerja sama dalam pengembangan pendidikan kejuruan.
Kegiatan diakhiri dengan sesi tanya jawab, dokumentasi, serta penyampaian ucapan terima kasih kepada pihak SMK Batik 1 Surakarta atas penerimaan dan kesempatan berbagi pengalaman mengenai implementasi Teaching Factory. Informasi, pengalaman, dan dokumentasi yang diperoleh selama kegiatan selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan evaluasi dan pengembangan program di SMK Negeri 2 Sewon.
